20 Jun 2014

Appointment with Death (Perjanjian dengan Maut)


Judul Asli: Appointment with Death
Judul Terjemahan: Perjanjian dengan Maut
Alih Bahasa: Indri K. Hidayat
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 258 halaman
Terbit: Juli 2003 (cetakan VIII)

"Di mana-mana, ada-ada saja yang mengingatkanku pada kejahatan," begitu pikir Poirot saat ia mendengar sebuah percakapan dari kamar hotelnya di dekat Laut Mati. Yang belum diketahuinya, percakapan tersebut akan menjadi petunjuk pertama dari sebuah pembunuhan yang belum terjadi.

Suara yang didengar Poirot adalah suara Raymond dan Carol Boynton. Keluarga Boyton dipimpin dengan tangan dingin oleh Nyonya Boynton yang bagaikan seorang tiran. Bahkan bagi dua orang luar yang kebetulan menginap di hotel yang sama; Sarah King, dan Dokter Gerard, perlakuan Ny. Boynton kepada anak-anaknya tidak jauh dengan seorang diktator. Wanita yang dahulu adalah sipir penjara itu mengatur segala tindakan keempat anaknya dan menantunya walaupun mereka sudah dewasa, termasuk hubungan mereka dengan orang asing. Raymond, misalnya, sangat tertarik dan ramah kepada Sarah, namun ia mengabaikan Sarah waktu mereka berdua bertemu di hadapan Ny. Boynton. Ketika Sarah mencoba berteman dengan Carol, hal yang sama pun terjadi. Bahkan, sang putri bungsu, Ginevra, mengalami gangguan saraf karenanya. Sarah merasa geram karena perlakuan Ny. Boynton, juga karena ketidakberdayaan anak-anaknya. Namun, dr. Gerard memintanya agar tidak ikut campur. Memang tidak banyak yang bisa ia lakukan. Pada akhirnya, Sarah menyerah. Sebelum perjalanan mereka berlanjut ke Petra, Sarah mengucapkan kata perpisahannya pada Ny. Boynton. Diharapkannya Ny. Boynton bisa mengubah perilakunya kepada keluarganya sendiri. Jawaban yang sangat aneh diberikan kepada Sarah.
"Aku tak pernah lupa," ujar perempuan tua itu. "Ingatlah itu. Aku belum pernah lupa akan apapun — baik perbuatan, nama, ataupun wajah."
sampul edisi 1988
(Turtleback Books)
Sarah dan dr. Gerard berangkat ke Petra bersama Lady Westholme dan Miss Pierce, seorang anggota parlemen terkenal dan seorang pegawai biasa dari Inggris. Ternyata mereka bertemu lagi dengan keluarga Boynton di kota batu itu. Sarah akhirnya berhasil membujuk Raymond untuk membebaskan diri dari ibunya. Sementara itu, Nadine, istri Lennox Boynton, memutuskan untuk meninggalkan suaminya dan menerima lamaran Jefferson Cope karena sudah tidak tahan lagi dengan kekejaman Ny. Boynton. Keputusan mereka nampaknya bukan sekadar kebetulan... karena sore itu, Ny. Boynton ditemukan sudah meninggal karena serangan jantung.

Kasus ini hampir ditutup begitu saja, seandainya Dokter Gerard tidak melaporkan hilangnya alat penyuntik bersama sejumlah obat miliknya yang dicuri saat ia terbaring sakit di tenda. Saat itulah Poirot teringat tentang percakapan yang pernah didengarnya. 
"Kau mengerti, kan, bahwa dia mesti dibunuh?"
Benarkah Raymond dan Carol akhirnya melaksanakan rencana mereka membunuh Ny. Boynton? Kalau benar ini adalah pembunuhan... masih ada beberapa orang yang dicurigai. Keterlibatan Sarah dengan keluarga Boynton membuatnya menjadi salah seorang tersangka. Tidak kalah mencurigakannya Lennox, yang ingin mencegah kepergian istrinya. 

Dengan sedikitnya bukti, bukannya lebih mudah kalau Poirot membiarkan kasus ini tidak terselesaikan, apalagi korban adalah orang yang 'pantas mati'? Namun, Poirot, rekannya, Kolonel Carbury, serta doktor Gerard, beranggapan bahwa pembunuhan tetaplah pembunuhan. Bukan hanya itu, Poirot yakin kalau ia bisa menyelesaikan kasus hanya dalam 24 jam dengan wawancara dan menganalisis psikologi tersangka.

Kasus yang disusun di dalam novel ini memang menarik dan tidak mengecewakan, namun di bagian awal rasanya ada bagian penjelasan yang diulang-ulang, terutama mengenai anak-anak keluarga Boynton. Petunjuk yang diberikan baru jelas setelah, yah, setelah Poirot sendiri yang menjelaskan. Padahal petunjuk itu ada di awal sekali! Tidak heran kalau Poirot sangat pe-de dengan batas waktu yang 24 jam itu... 



Trivia

Dalam kata pengantarnya sebelum cerita ini diterbitkan dalam bentuk cerbung di Daily Mail (1938), Christie menyatakan kalau dia sempat menyesal sudah menemukan (Poirot) yang menjengkelkan, besar mulut, dan menyusahkan ("There have been moments when I have felt: 'Why-why-why did I ever invent this detestable, bombastic, tiresome little creature!'").


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar