20 Feb 2015

Hercule Poirot's Christmas (Pembunuhan di Malam Natal)

sampul versi GPU cetakan thn 2013



Judul asli: Hercule Poirot's Christmas
Judul terjemahan: Pembunuhan di Malam Natal
Alih bahasa: Mareta
Tebal: 296 halaman
Terbit: Desember 1995 (cet. V)


Yet who would have thought the old man to have had so much blood in him. - Lady Macbeth (Macbeth - William Shakespeare)


"Siapa sangka pria tua itu memiliki banyak darah di tubuhnya," kutipan tersebut dibisikkan oleh Lydia Lee ketika mereka menemukan mertuanya terbunuh di kamarnya yang tertutup rapat. Ruangan itu hancur berantakan, perabotan bergelimpangan, dan ada percikan darah di mana-mana. Tidak ada yang punya kesempatan melakukan pembunuhan itu kecuali anggota keluarga. Namun, siapa yang bisa melakukannya dan meninggalkan kamar terkunci dari dalam? 


Sewaktu muda, Simeon Lee sukses dengan usaha berliannya di Afrika Selatan. Kekayaan yang didapat tidak menimbulkan kebahagiaan bagi keluarganya. Di hari tuanya, Simeon yang sudah sakit-sakitan tinggal bersama anak pertama Alfred, istri Alfred, Lydia, serta beberapa pelayan. Dia dikenal sebagai orang yang dermawan, tetapi sombong dan kejam serta memiliki reputasi buruk dengan wanita. Pada natal tahun itu, Simeon memanggil semua putranya untuk merayakan malam natal bersamanya walaupun mereka sudah sangat lama tidak bertemu. 

Selain dua orang saudara lelakinya dan istri-istri mereka, Alfred kedatangan tiga orang tamu lain: Harry Lee, 'si anak hilang' yang pernah melanggar hukum tapi masih menjadi kesayangan sang ayah; Stephen Farr, anak dari kolega Simeon di Afrika; dan Pilar, gadis cantik dari Spanyol yang ternyata anak Jennifer, adik mereka yang kabur dari rumah ketika masih muda. Simeon menyuruh Harry dan Pillar untuk tinggal bersamanya walau ia tahu Alfred tidak menyukai Harry. Untuk memperkeruh suasana, Simeon sengaja menelepon pengacaranya di hadapan mereka dan membuat janji temu untuk menulis ulang wasiatnya, kemudian mengatakan hal-hal buruk untuk memprovokasi anak dan menantunya.

Seusai acara makan malam natal yang dilewati dengan canggung, mereka mendengar jeritan mengerikan dari lantai atas. Yang mereka temui adalah mayat Simeon Lee dan kamarnya yang porak-poranda.


Ketika Hercule Poirot dan sahabatnya, Kolonel Johnson tiba di tempat kejadian, Inspektur Sudgen, kepala polisi setempat, menambahkan bahwa sore itu Simeon Lee memanggilnya karena berlian mentah yang ia simpan di lemari besi telah hilang. Apakah pencuri itu yang membunuh si tua Lee karena identitasnya ketahuan? Atau orang lain yang ingin mengubah surat wasiat Lee? 

Misteri di keluarga Lee perlahan-lahan dikuak oleh Poirot dengan pengamatannya yang tajam. Dengan cerdik ia menyimpulkan keterlibatan seseorang yang tak disangka-sangka dari petunjuk-petunjuk sepele yang ditemukannya. Poirot bahkan menemukan berlian yang disembunyikan di tempat yang tidak terduga! 

Semakin banyak halaman yang dibaca, semakin jelas kalau beberapa karakter memiliki rahasia dan kisah yang menarik. Di antara misteri dan di keluarga Lee, kehadiran Pilar dan Stephen sebagai 'orang asing' yang lugas dan blak-blakan menjadi penyegar suasana. Inilah yang menyebabkan Pembunuhan di Malam Natal menjadi salah satu novel favorit saya. Bahkan pembunuhnya sendiri membuat saya kagum dengan aktingnya yang jempolan dan alasannya yang kokoh. 

"Kita harus kembali..., kepada sifat atau karakter Simeon Lee sendiri." - Hercule Poirot, mengenai caranya memecahkan kasus ini. 

4 komentar: